Jumat, 12 Oktober 2012



Bagaimana Cara Pengentasan Kemiskinan

Bagaimana Cara Pengentasan Kemiskinan – Kemiskinan di dalam Islam itu dekat dengan sifat kekufuran, oleh karenanya di satu do’a Al-Matsurat pagi dan petang yang dicontohkan – do’a berlindung dari kemiskinan/kefakiran itu dirangkai dengan do’a berlindung dari kekufuran. Bukan hanya do’a saja, Islam memberi begitu banyak jalan yang mutlak untuk menjadi sumber utama pengentasan kemiskinan saat ini. Berikut saya sarikan tujuah diantaranya, saya yakin umat islam saat ini bisa terbebas dari kemiskinan jika kita yakin dan mau, karena dalam Al-Qur’an disebutkan semua perkara itu mudah asal kita mau.
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِر
“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (QS. 54:17)” .

1. Kerja Keras dan Kerja Cerdas
Kerja adalah cara yang paling efektif dan elegan untuk mengentaskan kemiskinan. Orang yang bekerja dan oleh karenanya menerima penghasilan dari pekerjaan tersebut akan terbebas dari meminta-minta dan ketergantungan terhadap orang lain. Bukan hanya bagi orang yang bekerja itu sendiri yang terbebas dari kemiskinan tetapi juga anggota keluarganya dan bahkan juga kerabat dekatnya. Kerja Keras dalam arti seseorang untuk bisa selesai dari sebuah masalah harus memakai kata kerja keras, tetapi kerja cerdas dibutuhkan agar pekerjaan kita selesai dengan hasil yang cepat dan maksimal
Menciptakan lapangan kerja yang halal, yang baik dan yang berkelanjutan insyaallah akan menjadi amal shaleh pengentasan kemiskinan yang utama. Untuk itu kami Amanah Qurban memiliki visi menciptakan lapangan kerja untuk kaum yatim dan Dhuafa, terutama anak anak yang dalam pengasuhan Yayasan Sahabat Yatim Indonesia.
2. Tanggung Jawab Kerabat Dekat
Banyak ayat yang menekankan tanggung jawab kita terhadap kerabat dekat dan orang miskin di sekitar kita seperti ;
وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّه ُُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلاَ تُبَذِّرْ تَبْذِيرا
Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan:dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. (QS. 17:26)
Menolong keluarga dekat ini bahkan insyaallah dapat mendatangkan dua pahala sekaligus yaitu pahala sedekah dan menyambungkan silaturahim. Kalau masing-masing orang yang relatif mampu menolong keluarga dekatnya yang kurang mampu, maka kemiskinan itu sudah akan banyak berkurang.
3. Zakat dari Kaum Agniya
Banyak sekali sumber-sumber zakat mulai zakat maal , zakat profesi, zakat tanaman, zakat ternak sampai zakat fitrah yang apabila diefektifkan penarikan dan penyalurannya akan menjadi sumber pengentasan kemiskinan yang sangat memadai.
Lebih-lebih karena persentase zakat ini cukup besar terhadap turn-over suatu system perekonomian. Mulai dari 2.5 % untuk barang dagangan sampai 10 % bagi zakat hasil pertanian yang tidak menggunakan irigasi teknis.
4. Tanggung Jawab Para Pemimpin
Negara memiliki berbagai pendapatan dan oleh karenanya para pemimpin negara tersebut bertanggung jawab terhadap rakyat yang dipimpinnya. Dasarnya antara lain adalah ayat “Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnusabil, …” (QS 8 :41) dan beberapa ayat lain yang senada.
Tetapi bukan hanya pemimpin negara yang bertanggung jawab terhadap rakyat yang dipimpinnya, masing-masing kita juga menjadi pemimpin dalam kapasitas kita masing-maing dan kita akan dimintai pertanggung jawaban terhadap kepemimpinan kita. Tanggung jawab terhadap orang-orang dalam ruang lingkup kepemimpinan kita inilah yang juga dapat menjadi sumber pengentasan kemiskinan itu.
5. Pemenuhan Kewajiban-kewajiban Tertentu
Di luar zakat, kita memiliki banyak kewajiban yang juga dapat menjadi sumber pengentasan kemiskinan. Lihatlah misalnya di ayat berikut, betapa luas tanggung jawab kita itu : “… Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu…” (QS 4 : 36)
Untuk tetangga bahkan ada tanggung jawab lebih yang terkait langsung dengan keimanan kita sebagaimana hadits shahih yang berbunyi : “ Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah menghormati tetangganya…”. Juga hadits lain yang berbunyi “Tidaklah beriman barang siapa yang kenyang dan tetangganya lapar sedangkan dia mengetahui…”.
Bayangkan bila masing-masing kita memperhatikan dan memuliakan sampai tetangga yang dekat dan yang jauh – tidak ada diantara mereka yang lapar ketika kita kenyang, kemiskinan pasti lebih mudah diatasi.
6. Pelaksanaan Ibadah-ibadah Tertentu
Bahkan ketika kita orang Islam melaksanakan tuntunan ibadah-ibadah tertentu-pun, itu bisa menjadi sumber pengentasan kemiskinan. Ketika kita memotong hewan qurban – dagingnya untuk orang miskin, ketika kita tidak melaksanakan nadzar dendanya memberi makan orang miskin, ketika orang tua kita sakit tua sehingga tidak bisa berpuasa – fidyahnya adalah memberi makan orang miskin . dlsb
Diluar sumber-sumber yang sifatnya keharusan atau kewajiban tersebut di atas, umat Islam juga didorong untuk berbuat maksimal dalam mengentaskan kemiskinan dalam berbagai bentuknya.
Ayat berikut misalnya menggambarkan betapa Allah menghargai dan memberi pahala yang berlipat untuk amalan seperti ini : “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS 2 : 261)
Dengan begitu banyaknya jalan untuk mengentaskan kemiskinan, insyaallah beberapa diantaranya pasti kita bisa aktif terlibat didalamnya – yang dibutuhkan tinggalllah melaksanakan mulai dari yang kita bisa, just do it !. InsyaAllah
Penulis adalah Direktur Gerai Dinar, kolumnis hidayatullah.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar